Beberapa bulan lalu, istri gue ngeluh soal tagihan listrik yang naik terus padahal pemakaian kami nggak berubah drastis. Kami tinggal di apartemen dua kamar di Jakarta, isinya cuma kami bertiga plus satu anak balita. Nggak ada AC central, nggak ada kolam renang pribadi, nggak ada mesin cuci front loading yang gede banget. Tapi tagihan listrik kami sempat nyentuh angka yang bikin gue mikir dua kali sebelum nyalain TV.
Awalnya gue curiga tetangga nyolong listrik. Serius. Gue sempat ngitungin kabel-kabel di meteran kayak detektif amatir. Ternyata setelah gue telusuri lebih dalam, masalahnya bukan di situ. Masalahnya ada di perangkat-perangkat kecil yang kami pakai tiap hari tanpa pernah gue pikirkan.
Baca juga: Dari Rice Cooker sampai Kulkas: Pelajaran Teknologi Rumahan ala Ibu Rumah Tangga
Rice Cooker Lama yang Setia Tapi Boros
Rice cooker kami umurnya udah hampir enam tahun. Mereknya nggak terkenal, beli di pasar dekat rumah waktu kami baru pindah. Selama itu pula dia setia nemenin sarapan, makan siang, dan makan malam. Tapi ada satu hal yang nggak pernah gue sadari: lampu warm-nya nyala terus, bahkan pas nasi di dalamnya udah habis.
Gue baru sadar waktu iseng beli alat pengukur daya kecil di marketplace. Harganya nggak sampai seratus ribu. Alat itu gue colok ke stopkontak, terus rice cooker gue sambungin ke situ. Hasilnya? Pas mode warm, dia makan sekitar 40 watt terus-terusan. Kalau dihitung sebulan penuh, itu lumayan banget buat perangkat yang fungsinya cuma angetin nasi.
Pelajaran pertama yang gue dapat: perangkat yang paling sering kita lupakan justru sering jadi penyedot listrik paling rajin.
Solusinya sederhana. Sekarang kami cabut rice cooker begitu nasi matang dan langsung pindahin ke wadah tertutup. Kalau mau makan, tinggal angetin sebentar di microwave. Nggak ribet, dan istri gue malah bilang nasinya jadi lebih pulen karena nggak kering kena panas terus-terusan.
Stop Kontak yang Selalu Terisi, Padahal Isinya Nganggur
Ini yang paling bikin gue malu sebagai orang yang ngaku ngerti teknologi. Di ruang TV kami ada satu strip stopkontak panjang yang isinya selalu penuh. Ada charger HP lama, charger tablet yang tabletnya udah rusak, adaptor speaker bluetooth yang speaker-nya udah dijual, dan satu lagi colokan buat lampu tidur.
Charger yang nggak nyambung ke HP tetap makan listrik, lho. Mungkin kecil, cuma 0,1 sampai 0,5 watt per unit. Tapi kalikan empat, kalikan 24 jam, kalikan 30 hari. Angkanya jadi nggak lucu lagi. Apalagi charger HP lama yang udah bertahun-tahun nggak dipakai tapi masih setia nangkring di situ.
Gue akhirnya beli stopkontak yang ada saklar per lubangnya. Harganya sekitar delapan puluh ribu di toko elektronik dekat kantor. Sekarang tiap malam, sebelum tidur, gue tinggal matiin saklarnya. Nggak perlu cabut-cabut kabel satu per satu. Anak gue yang umurnya tiga tahun juga jadi lebih aman karena nggak ada colokan yang nganggur dan gampang dijangkau.
Cara gue ngecek perangkat mana yang paling rakus
Kalau kamu mau coba cara yang sama, ini urutan yang gue lakuin:
- Beli alat pengukur daya kecil (biasanya disebut power meter atau watt meter). Harganya di bawah seratus ribu dan bisa dipakai berkali-kali.
- Catat pemakaian tiap perangkat selama sehari penuh, terutama yang nyala terus kayak kulkas, rice cooker mode warm, dan dispenser.
- Kalikan hasilnya dengan 30 untuk dapat gambaran kasar pemakaian sebulan.
- Bandingkan dengan tarif listrik di tagihan kamu. Yang paling besar selisihnya, itu yang pertama harus dibenahi.
Dari cara ini gue sadar kalau dispenser air panas di rumah kami ternyata jauh lebih boros dari dugaan. Dia nyala-mati terus buat jaga suhu air tetap panas. Sekarang dispenser cuma kami nyalain pagi dan sore, sisanya mati. Air panas buat bikin susu anak tetap ada, tapi tagihan nggak membengkak.
Lampu yang Terangnya Berlebihan
Ini mungkin kelihatan sepele, tapi efeknya kerasa. Waktu pindahan dulu, kami beli lampu LED asal murah dan asal terang. Prinsipnya waktu itu simpel: makin terang makin bagus. Ternyata di apartemen kecil, lampu yang terlalu terang bukan cuma bikin mata cepat lelah, tapi juga makan daya lebih dari yang sebenarnya kami butuh.
Setelah gue hitung ulang pakai alat yang sama, total daya lampu di rumah kami ternyata hampir setara dengan kulkas kecil. Padahal kami cuma butuh terang yang cukup buat baca dan main sama anak. Sekarang kami ganti ke lampu LED yang lebih rendah watt-nya di kamar dan ruang tengah, dan cuma pakai yang terang di dapur. Anak gue malah tidurnya lebih nyenyak karena kamarnya nggak lagi seterang ruang operasi.
Yang Gue Pelajari dari Semua Ini
Nggak ada satu perangkat ajaib yang langsung bikin tagihan listrik kami turun drastis. Yang berubah adalah kebiasaan kecil yang kami lakuin bareng-bareng. Cabut rice cooker setelah nasi matang. Matiin saklar stopkontak sebelum tidur. Nyalain dispenser cuma dua kali sehari. Ganti lampu yang berlebihan terangnya.
Total penghematan yang kami rasakan sekitar dua puluh persen dari tagihan sebelumnya. Buat keluarga kecil di kota besar yang tiap bulan harus ngatur uang dengan ketat, dua puluh persen itu bukan angka main-main. Itu setara dengan uang belanja sayur seminggu.
Yang paling penting, gue jadi sadar satu hal: teknologi rumahan itu bukan cuma soal beli perangkat baru yang canggih. Kadang yang dibutuhkan justru sebaliknya, yaitu berhenti sebentar dan ngerti cara kerja perangkat yang udah ada di rumah. Kamu nggak perlu jadi insinyur listrik buat mulai. Cukup penasaran, sedikit sabar, dan satu alat ukur kecil yang harganya nggak bikin dompet nangis.
Kalau kamu punya cerita serupa soal perangkat di rumah yang ternyata lebih boros dari dugaan, coba hitung sendiri dulu. Kadang jawabannya ada di stopkontak yang paling sering kita lewatin tanpa lihat.